Gunung Kembang Wonosobo Pendakian Nol Sampah (zero waste mountain)
- by pena-admin
- 10:28 22/08/2024
- 0

Gunung Kembang merupakan salah satu gunung di Jawa Tengah yang memiliki ketinggian 2.340 meter di atas permukaan laut (mdpl). Gunung ini terletak di Dukuh Blembem Kaliurip, Desa Damarkasihan, Kecamatan Kreteg. Gunung ini mempunyai karakter yang baik untuk pendakian yaitu dengan mewujudkan pendakian gunung nol sampah (zero waste mountain).
Bagi pendaki yang ingin mendaki gunung ini, ada dua jalur yang dapat digunakan, yakni jalur Blembem dengan tarif masuk sebesar Rp25 ribu dan jalur Lengkong dengan tarif masuk Rp20 ribu. Para pendaki juga dapat menikmati keindahan alam serta ragam jenis bunga di sepanjang jalur pendakian Gunung Kembang.
Gunung adalah satu dari tujuh gunung—dengan ketinggian di atas 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl)—yang jadi favorit pendaki di wilayah Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Enam gunung lainnya adalah Puncak Sikunir (2.300 mdpl), Gunung Bismo (2.365), Gunung Pakuwaja (2.421 mdpl), Gunung Prau (2.590 mdpl), Gunung Sindoro (3.153 mdpl), dan Gunung Sumbing (3.371 mdpl). Adapun puncak tertinggi Gunung Kembang mencapai 2.340 meter (mdpl). Orang-orang menyebut Gunung Kembang sebagai anak dari Gunung Sindoro, karena terletak persis di sebelah barat daya gunung yang memiliki kawah belerang aktif tersebut.
Meskipun juga memiliki kawah di bagian puncak, bisa dibilang Gunung Kembang saat ini berstatus tidak aktif. Kawah yang disebut masyarakat dengan nama Bimo Pengkok tersebut biasanya akan terisi air saat musim hujan. Selain keasrian hutannya, Gunung Kembang juga dikenal memiliki jalur pendakian yang sangat bersih. Khususnya di jalur Blembem, Kabupaten Wonosobo.
Kondisi ini karena berlakunya peraturan pendakian yang sangat ketat oleh pengelola Basecamp Gunung Kembang via Blembem. Tujuannya tidak lain agar pendaki bertanggung jawab pada segala potensi sampah yang dihasilkan selama pendakian. Tidak sedikit pendaki yang mengeluhkan ribetnya prosedur administrasi di Basecamp Gunung Kembang yang dikelola resmi oleh komunitas Skydoors sejak 1 April 2018 tersebut. Hal ini kadang berdampak pada rendahnya tingkat kunjungan pendaki per harinya. Namun, di sisi lain dengan sendirinya akan tersaring mana pendaki yang mau bertanggung jawab pada lingkungan ataupun sebaliknya