
Kemajuan teknologi makin memudahkan kehidupan manusia, meski terdapat konsekuensi yang harus dihadap salah satunya tampak pada penerapan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang tren belakangan gara-gara ChatGPT dan DALL-E. Dari sekian banyak aplikasi AI terdapat teknologi baru yang berhubungan dengan dunia kedokteran. Teknologi AI digunakan pula untuk mendeteksi penyakit stroke melalui aplikasi 'Fast.AI'.
Melansir laman Fast Company, AI pada aplikasi Fast.AI berfungsi untuk mendeteksi serangan stroke lebih awal dengan mempelajari rekaman pola dan sensor pada perangkat. Mengutip makalah yang dipresentasikan pada Konferensi Stroke Internasional American Heart Association, aplikasi juga telah melewati uji coba di empat pusat stroke Bulgaria. Hasilnya, aplikasi terbukti bisa mendeteksi asimetri wajah dengan akurasi 97% dan kelemahan lengan dengan akurasi 72%.
Selain itu, Fast.AI juga didesain untuk mendeteksi ucapan tidak jelas. walaupun keakuratan fitur ini belum diuji dalam penelitian atau riset. Aplikasi Fast.AI disebut bisa menghemat jeda waktu antara pasien mengalami serangan stroke dan menerima perawatan. Pasalnya, pasien seharusnya menerima perawatan paling lambat tiga jam setelah terkena serangan.
"Aplikasi seperti Fast.AI sangat membantu untuk mempercepat perawatan ketika pasien mengalami stroke. Ini sangat bisa menyelamatkan hidup mereka," tulis laman tersebut.
AI telah terbukti memberikan pengukuran yang lebih akurat dan memberikan perawatan yang menyelamatkan nyawa pasien sebelum terlambat. Algoritma AI dapat mengidentifikasi pola dalam data medis yang mungkin sulit dideteksi oleh dokter manusia. Teknologi ini dapat menganalisis data medis dalam jumlah besar dan mengidentifikasi pasien yang berisiko tinggi terkena stroke. Bagi anda yang masih penasaran silahkan masuk ke google play store untuk menemukan aplikasi pengganti dokter Fast.AI.
Previous Article